Menu

PT Solid Gold Berjangka | Pusat

Perusahaan Pialang Terbesar

Solid Gold | Kapan Bangsa Tionghoa Masuk ke Indonesia?

July 21, 2017

PT SOLID GOLD BERJANGKA - Indonesia memiliki ragam etnis.

Menurut sensus Badan Pusat Statistik pada 2010, ada 1.340 suku di tanah air.

Namun pada saat Pemerintahan Kolonial Belanda, dulu di Indonesia dibedakan berdasarkan tiga etnis besar yakni, bangsa Belanda, pribumi & etnis Tionghoa.

Pada zaman Belanda, tidak hanya kaum pribumi saja yg tertindas, tetapi jg orang Tionghoa.

Hingga kini, etnis Tionghoa masih hidup berdampingan dgn penduduk lokal Indonesia.

Lantas sejak kapan etnis Tionghoa datang ke Nusantara?

Seorang pemerhati budaya Tionghoa, Hendra Lukito menceritakan kedatangan leluhur orang Tionghoa ke Indonesia, berimigrasi secara bergelombang sejak ribuan tahun lalu.

Catatan-catatan kuno di Tiongkok menyebut, kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dgn dinasti-dinasti yg berkuasa di Tiongkok.

Faktor tersebut kemudian menyuburkan perdagangan & lalu lintas barang perdagangan dari Tiongkok ke Nusantara, jg sebaliknya.

Diperkirakan hal itu terjadi sekitar abad ke-3 Masehi.

Menurut Hendro, awal mula kedatangan etnis Tionghoa ke Indonesia berawal pada masa Kejayaan kerajaan Tarumanegara & kerajaan Kutai di pedalaman Kalimantan, atau Kabupaten Kutai.

Daerah tersebut kaya dgn hasil tambang emas.

Orang Tiongkok dibutuhkan sbg pandai perhiasan (emas).

Karena kebutuhan akan pandai emas semakin meningkat, maka didatangkan pekerja dari Tiongkok, di samping itu ikut dlm kelompok tersebut adalah para pekerja pembuat bangunan & para pedagang.

Mereka bermukim menyebar mulai dari Kabupaten Kutai, Sanggau Pontianak & daerah sekitarnya.

Hendra Lukito menjelaskan pula, gelombang kedua kedatangan Etnis Cina (Tionghoa) ke Nusantara terjadi pada masa Kerajaan Singasari di daerah Malaka, Jawa Timur sekarang.

Kedatangan mereka di bawah armada tentara laut Kubilai Khan atau jg sering disebut sbg Jenghis Khan dlm rangka ekspansi wilayah kekuasaannya.

Namun utusan yg pertama ini tidaklah langsung menetap.

Raja Singasari yg berkuasa menolak kehadiran utusan itu.

Pada Ekspedisi yg kedua tentara laut Kubilai Khan ke tanah Jawa, dgn tujuan membalas perlakuan Raja Singasari terhadap utusan mereka terdahulu.

Namun mereka sudah tidak menjumpai lagi kerajaan tersebut, & akhirnya mendarat di sebuah pantai yg mereka beri nama Loa sam (sekarang Lasem).

Sebagai armada mereka menyusuri pantai & mendarat di suatu tempat yg bernama Sam Toa Lang yg kemudian menjadi Semarang.

Masyarakat etnis China ini kemudian mendirikan sebuah tempat ibadat (kelenteng) yg masih dapat dilihat sampai masa sekarang.

Beberapa peninggalan zaman dahulu--baik di Indonesia maupun di negeri Cina--menyebut tentang kedatangan etnis Tionghoa ke Nusantara ini.

Pada prasasti-prasasti dari Jawa, orang Tiongkok disebut-sebut sbg warga asing yg menetap, di samping nama-nama sukubangsa dari Nusantara, daratan Asia Tenggara & anak benua India.

Sementara itu, berdasarkan cerita dlm Dinasti Han, pemerintahan Kaisar Wang Ming, mengenal Nusantara dgn sebutan Huang Tse.

Waktu perjalanan yg dibutuhkan pulang pergi Nusantara & Tiongkok adalah satu tahun.

Karena perjalanan yg sangat lama itu, sehingga tidak sedikit orang Tionghoa memilih menetap sementara di Nusantara, bahkan ada yg menetap selamanya.

Pendeta Buddha bernama Fa Hian (Fa Hsien) yg berasal dari Tiongkok, melakukan perjalanan ke India pada 319 sampai 414 Masehi.

Saat perjalanan pulang, dia sempat singgah di Jawa selama lima bulan.

Bersasarkan catatan yg dibuatnya, saat itu belum ada orang Tionghoa yg menetap di Jawa.

Baca juga Artikel - artikel menarik kami lainnya di :

(Prz - PT Solid Gold Berjangka)

 

Go Back

Comment

Blog Search

Blog Archive

Comments

There are currently no blog comments.